Di Balik Dua Bus yang Bertolak ke Cibubur: Haru Orang Tua, Perjuangan 48 Penggalang Limapuluh Kota Menuju JAMNAS XII

F. Malin Parmato
By -
0

 

Suasana haru menyelimuti hati orang tua melepas anaknya berangkat ke Jamnas XII ke Cibubur pada pagi Senin (10/8/2026) di GOR Singa Harau

SARILAMAK, Sumbareksis.com — Pagi belum terlalu tinggi ketika halaman Gedung Kantor Kwarcab 07 Gerakan Pramuka Kabupaten Limapuluh Kota di Komplek GOR Singa Harau, Katinggian, Sarilamak, mulai dipenuhi orang tua murid,  tamu undangan dan warga.


Ada seragam Pramuka. Ada tas-tas besar. Ada wajah-wajah muda yang menyimpan kegembiraan. Ada pula orang tua yang berusaha menyembunyikan rasa haru ketika melihat anak-anak mereka bersiap meninggalkan kampung halaman.


Senin pagi, 10 Agustus 2026, menjadi hari yang tidak biasa bagi 48 Pramuka Penggalang utusan Kabupaten Limapuluh Kota.


Dua bus telah menunggu.


Tujuannya jauh: Jakarta.


Di sana, di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, mereka akan bergabung dengan ribuan Pramuka Penggalang dari berbagai penjuru Indonesia dalam Jambore Nasional (JAMNAS) XII Tahun 2026 yang berlangsung 13–20 Agustus.


Sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan akhirnya bergerak.


Dua bus meninggalkan halaman kantor Kwarcab.


Di dalamnya, 48 anak ditambah 28 pendamping membawa perlengkapan, bekal dan seragam. Tetapi sesungguhnya, mereka juga membawa sesuatu yang jauh lebih besar: harapan keluarga, sekolah, Gugus Depan, pembina, pelatih dan masyarakat Limapuluh Kota.


Ada Haru di Sisi Bus

Di antara orang tua yang mengantar, ada Bapak Adit.


Pagi itu bukan sekadar melepas seorang anak pergi mengikuti kegiatan Pramuka.


Ia melepas putrinya, Falisha Qianzi Adzra, siswa Kelas 5 UPTD SDN 04 Sarilamak, yang terpilih memperkuat Kontingen Kwarcab 07 Limapuluh Kota di JAMNAS XII.


Ada rasa bangga.


Ada bahagia.


Tetapi ada pula haru yang sulit disembunyikan.


Bagi seorang ayah, melepas anak perempuan pergi jauh ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan nasional tentu bukan perkara sederhana.


Falisha bukan hanya membawa nama sekolahnya. Ia juga membawa nama Kabupaten Limapuluh Kota.


Dan ada satu hubungan keluarga yang membuat kisah ini terasa semakin istimewa.


Adit merupakan menantu dari Ketua Kwarcab 07 Gerakan Pramuka Limapuluh Kota, Zulhikmi, S.Pd., M.Pd., Dt. Rajo Suaro.


Dengan demikian, Falisha adalah cucu bapak Zulhikmi.


Namun pagi itu, di tengah hiruk-pikuk keberangkatan, Falisha tetaplah seorang anak yang hendak pergi jauh dari rumah untuk belajar, berkegiatan dan mencari pengalaman baru.


Ia adalah satu dari 48 Penggalang yang berhasil melewati proses seleksi untuk menjadi bagian dari kontingen daerah.


143 Anak, 48 Nama

Di balik keberangkatan yang berlangsung hanya dalam hitungan menit itu, sesungguhnya ada proses panjang.


Tidak semua yang bermimpi mengenakan seragam kontingen akhirnya bisa naik ke bus.


Sebanyak 143 Pramuka Penggalang mengikuti proses seleksi. Dari jumlah tersebut, hanya 48 orang yang akhirnya terpilih.


Seleksi dilakukan sebanyak 12 kali. Setiap seleksi berlangsung selama tiga hari.


Jika dijumlahkan, proses seleksi itu menghabiskan waktu 36 hari.


Setelah terpilih, perjuangan belum selesai.


Mereka masih harus mengikuti pemusatan latihan atau training camp (TC), perkemahan, pembekalan ilmu dan berbagai latihan untuk mempersiapkan diri menghadapi JAMNAS tingkat nasional.


Sebanyak 48 peserta itu berasal dari 32 Gugus Depan. Di dalamnya terdapat 23 peserta dari SMP, lima dari MTs dan empat dari SD.


Seluruh kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota disebut memiliki utusan.


Artinya, dua bus yang berangkat pagi itu bukan hanya membawa anak-anak dari satu sekolah atau satu kecamatan.


Mereka membawa wajah Limapuluh Kota.


Kisah Rifky dan Dua Anak yang Berangkat

Di antara orang tua yang hadir, ada pula Rifky Reflis.


Putranya, Muhammad Haziq Rakilla, siswa Kelas 3 SMPN 01 Harau, menjadi salah seorang peserta JAMNAS XII.


Bagi Rifky, perjalanan anaknya menuju Cibubur memiliki cerita tersendiri.


Ia memiliki seorang putra lainnya, Affan, siswa Kelas 6 SDN 04 Sarilamak, yang juga pernah mengikuti seleksi JAMNAS. Namun Affan belum berhasil masuk dalam 48 nama yang terpilih.


Di sisi lain, Rifky masih mendapatkan kebahagiaan lain.


Seorang keponakannya yang duduk di tingkat SMP juga terpilih menjadi peserta JAMNAS XII.


Maka pagi itu, keluarga Rifky mengantar dua anak sekaligus menuju sebuah pengalaman besar: seorang anak kandung dan seorang keponakan.


Bagi orang tua, JAMNAS bukan semata-mata tentang pulang membawa medali.


Ada harapan agar anak-anak pulang membawa sesuatu yang tidak kalah berharga: ilmu, pengalaman, keberanian, kemandirian dan persahabatan.


“Yang terbaik untuk Limapuluh Kota dan Sumatera Barat. Mudah-mudahan anak-anak mendapatkan ilmu yang lebih banyak, mendapatkan persahabatan untuk masa depan yang dicita-citakan,” demikian harapan Rifky.


Baginya, JAMNAS adalah bagian dari proses.


Proses untuk belajar bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan.


Jangan Sekadar Pergi

Pesan yang sama juga disampaikan Kepala Bagian Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Limapuluh Kota, Sarnen Indra, S.Pd., M.Pd.


Ia meminta para peserta mengikuti JAMNAS dengan serius.


Bukan sekadar pergi ke Jakarta.


Bukan sekadar menikmati perjalanan.


Mereka harus menjaga nama baik daerah dan sekolah, serta berusaha meraih prestasi.


Sarnen juga mengingatkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat penting: kesehatan.


Rangkaian kegiatan JAMNAS sangat padat. Karena itu, peserta harus pandai menjaga kondisi tubuh.


Ketika waktunya makan, makan.


Ketika waktunya istirahat, beristirahat.


Jangan sampai semangat mengikuti kegiatan justru membuat kesehatan terganggu.


Pembina Menjadi Orang Tua Selama Perjalanan

Perhatian khusus juga diberikan kepada para pembina dan pelatih.


Ketua Kwarcab Limapuluh Kota mengingatkan agar adik-adik peserta benar-benar diperhatikan selama perjalanan maupun ketika berada di arena JAMNAS.


Jangan sampai terlambat makan.


Jaga kesehatan.


Jika ada persoalan, segera dimusyawarahkan dan dilaporkan kepada pimpinan.


Bahkan perjalanan menuju Jakarta pun menjadi perhatian.


Peserta akan menempuh perjalanan panjang, termasuk menggunakan kapal dalam rangkaian perjalanan. Karena itu, para pembina diminta memastikan anak-anak tidak berjalan sendiri-sendiri.


Jika hendak bergerak di kapal, peserta diminta tetap berkelompok.


Sebab bagi para pembina, 48 anak yang berangkat pagi itu bukan sekadar peserta kegiatan.


Mereka adalah amanah.


Pesan Bupati Masih Terngiang

Sepekan sebelumnya, tepatnya Senin, 3 Agustus 2026, seluruh kontingen telah dilepas secara resmi oleh Bupati Limapuluh Kota H. Safni Sikumbang, selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Kamabicab) Gerakan Pramuka Limapuluh Kota.


Di halaman Kantor Bupati Limapuluh Kota, Sarilamak, Bupati menitipkan pesan agar para peserta menjaga kekompakan, kesehatan dan nama baik daerah.


Jangan pulang hanya membawa cerita tentang perjalanan.


Manfaatkan JAMNAS untuk belajar.


Cari pengalaman baru.


Bangun persahabatan dan korespondensi dengan Pramuka dari berbagai daerah.


Perluas silaturahmi.


Sebab JAMNAS mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi pengalaman yang diperoleh bisa menjadi bekal bertahun-tahun ke depan.


Dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim, Bupati kemudian melepas kontingen menuju Cibubur.


“Semoga sehat selalu, sukses ber-Jamnas, dan selamat kembali ke Limapuluh Kota.”


Doa itu kemudian seperti ikut bergerak bersama dua bus yang meninggalkan halaman Kwarcab.


Dari Sarilamak Menuju Indonesia

Pukul 08.30 WIB. Dua bus bergerak perlahan. Di luar bus, orang tua masih berdiri. Sebagian melambaikan tangan.


Sebagian mungkin masih ingin memastikan anaknya benar-benar aman.


Di dalam bus, 48 Penggalang mulai menempuh perjalanan panjang menuju Jakarta.


Mereka berasal dari sekolah yang berbeda, Gugus Depan yang berbeda, kecamatan yang berbeda.


Namun pagi itu mereka berada dalam satu nama:


Kontingen Kwarcab 07 Gerakan Pramuka Kabupaten Limapuluh Kota.

Mereka akan berkemah, belajar, berkegiatan, bertemu dengan Pramuka dari berbagai daerah dan merasakan atmosfer sebuah pertemuan nasional.


Tema JAMNAS XII 2026 pun bukan sekadar rangkaian kata:


“Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.”

Tema itu menjadi tantangan bagi mereka untuk tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi generasi muda yang kreatif, terampil, mandiri dan mampu melihat masa depan dengan optimisme.


Dan bagi orang-orang yang berdiri melepas kepergian mereka pagi itu, ada satu harapan yang sederhana.


Semoga anak-anak itu pergi dengan sehat. Belajar dengan sungguh-sungguh. Menjaga nama baik daerah. Mendapatkan sahabat baru. Membawa pulang pengalaman.


Dan, jika Allah mengizinkan, pulang membawa prestasi.


Sebab di balik dua bus yang bertolak dari Sarilamak pagi itu, sesungguhnya ada 48 cerita tentang perjuangan, 48 harapan keluarga, dan satu nama daerah yang mereka bawa bersama: Limapuluh Kota.


(F. Malin Parmato)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)