SOLOK SELATAN, sumbareksis.com — Semangat menjaga marwah dan persatuan adat Minangkabau terpancar kuat dalam acara Halal Bihalal Suku Kampai yang digelar di Rumah Tinggi Inyiak Majolelo, Sungai Pagu, Solok Selatan. Pertemuan ini menjadi momentum krusial yang membuktikan bahwa ikatan batin niniak mamak lintas luak masih berdiri kokoh di tengah arus zaman.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi Idulfitri, melainkan juga ruang konsolidasi bagi sekitar 50 niniak mamak dari berbagai wilayah adat di Sumatra Barat. Kehadiran para pemangku adat dari berbagai luak mempertegas bahwa struktur adat Minangkabau tetap solid dan terintegrasi secara emosional maupun kultural.
Kehadiran Lintas Luak
Rombongan niniak mamak yang hadir mewakili pilar-pilar penting Minangkabau, di antaranya:
1. Luak Limo Puluah: Mewakili Niniak Nan Barompek, rombongan dipimpin oleh Niniak Datuak Bandaro, didampingi Datuak Godang Sabatang dan Datuak Simarajo.
2. Luak Tanah Datar: Rombongan dipimpin langsung oleh Datuak Cahayo Limpati.
3. Luak Agam: Dipimpin oleh Niniak Datuak Nan Lawe.
4. Banda Sapuluah: Turut hadir di bawah pimpinan Datuak Rajo Bukik.
Sebagai tuan rumah, Inyiak Majolelo menyambut hangat para tamu dengan didampingi oleh Bendang Nan Barampek, yang terdiri dari Datuak Rajo Alam Nagari, Datuak Saidano, Datuak Bando Putiah, dan Datuak Rajo Kobo. Turut menyaksikan prosesi adat ini Sekretaris KAN Datuak Rajo Imam Nagari serta Ketua KAN Pasie Talang, Datuak Sutan Kayo.
Pesan Persatuan dan Keberlanjutan
Dalam sambutannya, Inyiak Majolelo menekankan keterbukaan rumah gadang sebagai simbol pemersatu. "Rumah gadang ini terbuka untuk dunsanak kito sadonyo. Kehadiran niniak mamak hari ini adalah kebanggaan sekaligus penguat persatuan adat yang harus terus kita jaga bersama," ujarnya.
Senada dengan itu, Tampuak Tangkai Alam Minangkabau, Jufrizal Datuak Bandaro Kayo, menegaskan bahwa silaturahmi adalah fondasi utama dalam mewariskan nilai-nilai adat. Sementara itu, Datuak Godang Sabatang mengingatkan bahwa kekuatan adat terletak pada saat niniak mamak "duduk basamo" untuk memikul tanggung jawab kolektif.
Datuak Simarajo juga menambahkan pesan yang mendalam: “Adat akan tetap kokoh jika kita berdiri dalam satu barisan. Kebersamaan adalah kunci menjaga marwah yang diwariskan.”
Niniak Datuak Nan Lawe dan Datuak Paduko Tuan juga memberikan catatan penting mengenai keberlanjutan budaya. Mereka sepakat bahwa persatuan adalah "nafas" dari adat itu sendiri. Selama kebersamaan ini terjaga, maka eksistensi adat Minangkabau tidak akan pernah pudar oleh waktu.
Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjaga nilai kearifan lokal dan memperkuat sinergi antar-pemangku adat demi masa depan generasi Minangkabau yang tetap berpegang teguh pada jati dirinya.


Posting Komentar
0Komentar